Rabu, 13 April 2011

OHKA, Pesawat Bom Jepang Yang Berisi Manusia

Ohka (桜花, ōka?, bunga sakura) adalah salah satu pesawat yang digunakan dalam misi bunuh diri Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) menjelang berakhirnya Perang Dunia II di medan Pasifik atau Perang Asia Timur Raya (Dai Toa Senso).


Gambar Ohka
Kamikaze yang resmi dibentuk Laksdya Takijiro Ohnishi pada 20 Oktober 1944, dalam kenyataannya bukanlah hanya terdiri dari pesawat terbang bermuatan bom yang ditabrakkan pilotnya ke kapal perang musuh. AL Jepang juga menyiapkan bom terbang, berupa roket bermuatan peledak. bom terbang ini dijatuhkan dari sebuah pesawat pengebom. Begitu lepas dari pesawat induknya, mesin roket akan menyala dan melesatkan roket ke arah sasaran. Pengendalinya seorang pilot, karena sistem kendali radio waktu itu masih dalam pengembangan

Seorang letnan muda AL bernama Shohichi Ota dikenal sebagai pencetus gagasan bom terbang ini. Ia berpikir, basil serangan bunuh diri dengan senjata ini akan jauh lebih besar dibanding pesawat terbang bermuatan bom. Sebab kecepatan roket lebih tinggi dan muatan peledaknya pun lebih besar. Ota diketahui berusaha keras `menjual’ gagasannya kepada atasannya. Pada suatu hari pertengahan 1944, ia datang ke Laboratorium Riset Aeronautik AL dan menemui pimpinan bagian perancangan “Pesawat Masa Depan”, Letkol Tadano Mild, seorang perwira teknik yang andal.

Profil Ohka yang merupakan bom terbang bertenaga roket yang dikendalikan seorang pilot. Sejumlah pesawat pengebom Jepang, Mitsubishi G4M2, yang bisa berfungsi sebagai penggendong Ohka sebelum diluncurkan ke target musuh.

Dalam pertemuan yang dihadiri pimpinan laboratorium Laksamana Misao Wada dan beberapa perwira peneliti lainnya, Letda Oka menjelaskan konsep bom roketnya yang dapat dilepaskan dari sebuah pengebom serang Betty dari Mitsubishi. Propelan roket ini adalah kondensasi hydrogen peroxide dan hydrated hydrogen. Bahan bakar cair yang dikembangkan Mitsubishi ini telah dimanfaatkan AD Jepang guna mengembangkan roketnya. Ota mengatakan propelan ini pun dipakai Jerman untuk roket Komet. Tetapi Mild tak terkesan. “Ini orang pasti tolol. Beginikah yang ia sebut sebagai senjata baru?” pikir Mild.

Dikendalikan pilot

Mild lalu bertanya mengenai sistem pengendaliannya, namun Letnan Ota tidak segera menjawab dan malah tampak agak gelisah. Mild pun mengulang pertanyaannya, dengan menerangkan bahwa yang ia maksud adalah peralatan untuk memastikan bahwa roket akan tepat mengenai sasarannya. Ota lalu mengangguk dan menyahut. “Seseorang yang berada di dalamnya.” Mild tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa,” teriaknya bercampur antara tidak percaya dan marah. “Kamu benarbenar idiot. Kita tidak akan pernah membuat barang semacam itu,” tambah Mild.


Sejumlah tentara Jepang sedang mengerumuni Ohka Glide Bomb di suatu tempat yang kemudian tidak jadi diterbangkan.

Wajah Ota memerah, tetapi berusaha tenang. Dia lalu mengingatkan betapa posisi Jepang dalam perang ini semakin mencemaskan. Musuh menguasai udara, dan Jepang tidak mungkin menghentikan kekuatan invasi musuh hanya dengan cara konvensional. “Rencana saya adalah menghancurkan armada kapal induk musuh dengan menabrakkan diri guna membalikkan situasi. Ini vital buat kelangsungan hidup negara kita. Karena itu kita harus membuat senjata ini”.

Perdebatan sengit itu berakhir ketika Letkol Mild bertanya kepada Ota. “Kamu menyarankan senjata ini ditabrakkan ke sasaran, tetapi siapa yang akan memilotinya.” Langsung Letnan Ota menjawab, “Tentu saja saya yang akan melakukan.” Seusai pertemuan, Mild curiga bahwa Laksmana Wada selaku pimpinan laboratorium riset AL diam-diam telah mendukung gagasan Ota, dan bahkan akan merekomendasikannya kepada jajaran lebih tinggi di Mabes AL.


Profil Ohka dalam kondisi utuh dan ditempatkan di museum Smithsonian, AS. Ohka Model 22 ini dibawa dari Jepang pada Desember 1945 dan baru masuk Smithsonian tahun 1948.

Ternyata benar. Wada meneruskan gagasan Ota kepada Departemen Aeronautik AL, yang langsung menindaklanjutinya. Akhirnya hal ini sampai ke kalangan pimpinan Staf Umum Mabes AL. Mereka tertarik karena senjata ini mungkin memang berguna dalam Operasi Sho yang akan dilancarkan untuk menahan invasi Amerika. Pertengahan Agustus 1944 keluar instruksi kepada Laboratorium Riset Aeronautik AL agar memulai produksi percobaan bom roket yang diberi nama sandi Maru Dai. Maru artinya lingkaran, dan Dai yang juga bisa dibaca sebagai “0″, adalah untuk menghormati penemunya, Shoichi Ota. Mild pun menyerah.

Bunga ceri yang meledak


Bom terbang ini dirancang memiliki panjang 6,07 m, tinggi 1,16 m, dan rentang sayap 5,12 m. Roket sayap beratnya 140 kg, roket pada badan 360 kg, dan badan pesawat sendiri 440 kg. Bahan peledaknya mencapai 1.200 kg, sehingga berat seluruh bom terbang ini 2.140 kg. Berbagai uji coba secara intensif dilakukan, termasuk oleh Tadano Mild, perwira teknik yang semula menentang keras roket untuk serangan bunuh diri tersebut.


Situasi dan peta Kanoya Air Base di Kyushu yang merupakan pangkalan bagi grup kamikaze Korps Dewa Guntur.

Satu-satunya soal pada Maru Dai adalah jarak jelajahnya, paling banter hanya mencapai 60 km. Padahal jarak terbang pesawat Amerika untuk melindungi kapal perangnya mencapai 90 km. Ini berarti sebelum cukup mendekati sasaran, pesawat pengebom pembawa Maru Dai dapat diserang oleh pesawat patroli musuh. Karena itu tak ada jalan lain, pesawat pengebom Jepang harus mampu menembus patroli pesawat Amerika, serta mencapai jarak hanya 25-30 km dari sasaran untuk melepaskan bom terbangnya. Untuk itu diperlukan pesawat pemburu guna melindungi. Awal September, dari fasilitas laboratorium AL yang dijaga keras kerahasiaannya, muncul dua pesawat bom roket yang telah selesai dibuat.

Keduanya khusus untuk uji coba terbang, dan diberi nama resmi Ohka atau “Bunga Ceri yang Meledak”. Pada kedua sisi hidungnya, digambari bunga ceri berwana merah muda atau pink. Uji terbang dengan dilepas dari pengebom Betty dinyatakan berhasil, termasuk sebuah Ohka yang mampu didaratkan kembali oleh pilotnya. Namun ada juga pilot yang tewas ketika gagal melakukan pendaratan. Setelah rangkaian uji coba, bulan November mulai dilakukan latihan bagi para calon penerbangnya.

Korps Dewa Guntur

Para pilot yang tergabung dalam Korps Dewa Guntur (Thunder Gods Corps) ini dipimpin Kolonel Motoharu Okamura, yang sejak awal terlibat dalam program pengembangan Ohka serta pembentukan korps penerbangnya. Okamura sejak pertengahan 1944 selalu mengusulkan cara serangan khusus terhadap armada Amerika. Istilah ‘serangan khusus’ ini adalah sekadar untuk menghaluskan kata `serangan bunuh dire. Januari 1945 datang utusan Kaisar ke pangkalan korps, menyatakan penghargaan atas semangat para pilotnya yang ketika itu sudah lebih dari 150 orang.


Dua pesawat pengebom Mitsubishi G4 M2.

Selanjutnya korps disebar, antara lain ke Jepang bagian selatan juga ke pangkalan di Taiwan dan Shanghai. Markas besar korps ini di pangkalan udara Konoya di Kyushu, Jepang bagian selatan. Korps saat itu selain sudah memiliki 162 Ohka dan 72 pesawat induknya, juga mendapat 108 pesawat Zero tipe Z-Serang khusus untuk serangan bunuh diri. Sementara itu persiapan invasi musuh semakin terasa. Pesawat Amerika terus melakukan pengintaaian dan serangan terhadap berbagai sasaran di Jepang, termasuk mulai memakai pengebom strategis B-29.

Tanggal 17 Maret, Laksdya Matome Ugaki selaku Panglima Armada Udara Kelima AL menerima laporan adanya armada musuh yang mendekati Kyushu. Ugaki terus memantau. Pada dinihari 18 Maret is memerintahkan menyiapkan serangan all-out. Tetapi hari itu tak kurang dari 1.460 pesawat Amerika mendahului menyerang. Seusai serangan itu, Ugaki meminta Korps Dewa Guntur melakukan aksi pertamanya. Namun gempuran hebat Amerika datang lagi, sehingga rencana Jepang berkamikaze dengan mengoperasikan Ohta pun gagal.
Tugas yang Gagal

Baru pada 21 Maret datang perintah resmi untuk misi pertama Korps Dewa Guntur. Persiapan segera dilakukan, dan Letnan Kentaro Mitsuhashi beserta 14 pitnya tugas pertama menyerang dengan bom terbang. Mereka memotong kuku dan rambut, menaruhnya dalam kotak kayu bersama surat perpisahan 7agi orangtua masing-masing.


Sejumlah pilot andalan dari Korps Dewa Guntur sedang berpose di depan pesawat Zero sambil mengembangkan tawa (hawah). Tugas sebagai pilot kamikaze yang diyakini sebagai wahana untuk menjaga kehormatan bangsa dan nasionalisme tidak menyebakan mereka takut mati tapi justru dilaksanakan dengan penuh kebanggaan.

Upacara pelepasan dilakukan, dihadiri Laksamana Ugaki, sementara komandan korps Kolonel Dkamura terbata-bata mengucapan selamat jalan kepada 15 anak buahnya. Pada giliran Mitsuhashi untuk berbicara, ia hanya mengatakan, “Saya tidak punya kata-kata lain untuk disampaikan. Marilah kita mati bersama-sama.”

Serangan bunuh diri pertama dengan “ledakan bunga ceri” ternyata gagal. Pilot pesawat Zero pengawal yang berhasil kembali dengan pesawatnya penuh lubang peluru menuturkan, bahwa mereka disergap oleh sekitar 50 pesawat Amerika. Sehingga dalam tempo 10 menit, sembilan pesawat induk Betty dan dua pengebom lain khusus untuk tugas serangan bunuh diri, rontok dari udara. Pesawat Zero pengawal berusaha melawan, tetapi kalah dan harus berpencar. Beberapa Betty terpaksa membuang Ohta mereka sebelum waktunya, agar lebih lincah menghindari serangan pesawat musuh. Pilot Zero tadi melaporkan pada akhirnya tersisa empat Betty, yang kemudian terlihat terbang rapat sayap ke sayap dan bersama-sama menukik ke laut.

Meskipun pada debutnya gagal total, tetapi serangan dengan Ohka terus berlangsung. Hasilnya pada umumnya kurang sesuai seperti yang diharapkan. Sehingg Amerika pun bahkan mengejek senjata Jepang itu dengan sebutan Baka atau ‘Gila’, Akhirnya pada 22 Agustus atau satu minggu setelah takluknya Jepang, Korps Dewa Guntur dibubarkan atas perintah Armada Udara Kelima AL yang telah ditinggalkan oleh panglimanya Laksamana Ugaki. Dia telah melakukan serangan bunuh diri terakhir ke arah Okinawa dengan pesawat pengebom-tukik pada 15 Agustus. Komandan korps Kolonel Okamura sibuk membakari dokumen korpsnya. “Segala apa yang pernah kita buat dan jalankan, kini tinggallah jadi sejarah,” ujarnya.

Nasib Shoichi Ota, penemu Ohka, sesudah perang berubah misterius. Ada yang menyebutkan ia sebetulnya bukanlah penemu senjata bom terbang tersebut, melainkan hanya boneka yang diperalat oleh sementara tokoh AL. Mereka ini malu dan takut apabila diketahui sebagai penggagas serangan bunuh diri dengan bom terbang. Laporan lain menyebutkan Ota bersembunyi dan menyamar menjadi penduduk desa dengan berganti nama. Ada pula yang mengatakan ia pernah pinjam uang dari para mantan anggota Korps Dewa Guntur, tetapi lalu menghilang. Usaha melacaknya untuk keperluan sebagai sumber sejarah tidak pernah berhasil hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar